DAFTAR LABEL

Kamis, 07 Agustus 2008

Bonsai


“Bonsai bukan produk suka-suka, tapi karya seni yang ada di dalam koridor. Itu untuk meluruskan mitos kalau bonsai tak sekedar koleksi bergengsi,” kata Anggota Tim Juri Kontes Bonsai Indonesia, Wawang Sawala.
Draft dan teknik penjurian bonsai penting diketahui, terutama bagi penghobi pemula. Tokoh bonsai dan juga anggota tim juri, Wawang Sawala, akan memandu artikel ini, sejalan juga dengan bagaimana teknik penjurian Ia juga memberikan beberapa tips bagaimana mendapatkan poin tinggi dalam kontes, dengan mendekatkan pada draft yang ada.
Memang tak ada yang bisa menyalahkan bila kita menyebutkan, kalau bonsai sebagai produk suka-suka. Sebab, bonsai yang dibuat merupakan satu bentuk ekspresi yang kita tuangkan dalam bentuk tanaman. Jadi apapun bentuknya, pasti berdasakan selera dari pemilik yang tentu tak bisa disalahkan.

Anggapan ini tentu bisa saja benar, dengan syarat bahwa karya bonsai yang dimiliki untuk dinikmati sendiri, bukan untuk diikutkan dalam lomba. Sebab, saat masuk dalam lomba atau kontes akan ada aturan baku yang mengatur bagiamana bonsai yang bagus dan layak jadi juara. Pedomannya ada pada draft penjurian yang nantinya akan memberikan nilai dari produk tersebut.
“Aturan dibuat untuk memberikan pedoman mana produk yang baik dan layak juara,” tandas Wawang yang sudah menggeluti bonsai dari tahun 70-an.
Secara garis besar, draft penjurian terdiri dari empat sub, yaitu:
Gerak Dasar
Pada item ini bonsai akan dinilai dari arah pergerakan, mulai dari akar hingga ujung batang dengan fokus penilaian di bagian akar dan batang. Di sini, akan dinilai bagaimana gerakan tanaman dari tiga poin, yaitu gaya, karakter, dan alur gerak. Untuk gaya adalah penilaian bonsai menurut gaya yang sesuai dengan kriterianya.
Contohnya, gerakan ke atas – tegak – lurus, maka yang baik adalah mempunyai bentuk mengerucut, dimana bagian batang bawah lebih besar dan mengecil di bagian ujungnya. Itu sama halnya dengan gaya menyamping harus ada keseimbangan yang bisa dilihat dari bagian akar yang mendukung gerakan itu.
“Bila gaya menyamping ke kanan, maka bagian akar sebelah kanan batang harus lebih kokoh untuk menyangga batang. Di situ, gerakan yang muncul memang menyesuaikan dengan apa yang terjadi di alam,” ujar Wawang.
Di poin karakter, menonjolkan kekuatan dari jenis tanaman. Diantaranya, dari ketuaan batang. Penilaiannya dari karakter atau watak yang berbeda di setiap jenis yang terlihat dari ciri anatominya. Di bagian ini memang akan memberikan nilai lebih untuk jenis asam jawa maupun santigi yang mempunyai karakter batang pecah dan tua. Bentuk tua ini yang akan memberikan nilai lebih saat penjurian.
Poin terakhir adalah alur gerak yang terdapat di seluruh anatomi, mulai dari akar sampai mahkota. Penilaian juga termasuk dalam bonsai yang mempunyai batang lebih dari satu, baik twin, triple atau grouping. Di sini, karakter gerakan jadi poin penting. Contohnya, pada gaya in-formal alur gerak yang baik lekukan batang tak hanya menyamping ke kanan atau ke kiri, tapi juga bisa ke depan dan ke belakang. Untuk gerakan seperti ini nilainya akan jauh lebih besar.

merupakan salah satu seni pemangkasan tumbuhan atau pohon dengan membesarkan tanaman di pot saja. Kultivasi termasuk teknik-teknik untuk pembentukan (shaping), pengairan (watering) dan pengepotan (repotting) di segala macam bentuk pot.
Berasal dari daratan China pada zaman Dinasti Han, 'Bonsai' adalah pelafalan bahasa Jepang untuk tanaman tersebut yang bahasa Mandarin -nya "pen zai", yang ditandai dengan digunakannya karakter kanji. Kata 'Bonsai' di Barat digunakan untuk semua macam tanaman atau pohon miniatur yang ditanam di dalam wadah tertentu atau pot.
Dalam bahasa Jepang, bonsai berarti "tanaman di pot". Biasanya akan berasosiasi dengan sebuah miniatur pohon yang ditanam di dalam pot atau kontainer. Pohon yang di bonsai umumnya berupa pohon berkayu (misalnya pohon beringin, dll) atau pohon buah-buahan dan kadang berupa pohon bunga. Bonsai yang baik dapat diletakkan diluar pekarangan sepanjang tahun.
Efek artistik dari bonsai dilihat dari keseimbangan dalam ukuran batang, daun, ranting bunga atau buah dan pot yang digunakan. Pot yang dipakai haruslah yang mendukung suasana pohon yang ditanam. Bonsai sekarang menjadi cukup populer termasuk di Indonesia.

Kematangan
Di sub penjurian, kematangan yang diutamakan adalah proses hasil akhir dari tanaman, baik dari anatomi maupun pembuatannya. Konsentrasi penilaian ada pada cabang, ranting, dan daun. Untuk poin pertama adalah tahapan, fokus.......... di sini selengkapnya

Tidak ada komentar: